Jumat, 07 Juni 2013

Guru dan Plagiarisme



Guru Profesional dan Plagiarisme

Kasus 1.082 guru di Riau yang ketahuan menggunakan dokumen palsu agar dapat dikategorikan sebagai "guru profesional" sungguh memilukan. Dalam hati saya bertanya, apakah guru-guru ini masih dapat mengajar di sekolah mereka?
Masih ada sederet pertanyaan lain dalam kasus ini tentang guru-guru ini. Yang sungguh mengganggu pikiran saya adalah bagaimana para guru itu masih dapat mengajar dengan baik setelah mereka kehilangan wibawa (gezag) akibat peristiwa ini? Sebutan "guru profesional" tak akan dapat mengembalikan wibawa yang hilang karena plagiarisme tadi.
Bahkan, sebutan apa pun tak ada yang dapat mengembalikan wibawa yang hilang dalam jabatan guru. Titel "profesor" sekali- pun tak dapat mengembalikan kewibawaan seorang guru besar yang melakukan plagiat. Contoh ini merujuk kasus plagiat seorang profesor dari perguruan tinggi terkemuka di Bandung yang dimuat The Jakarta Post pada 12/11/2009. Tulisan dinilai menjiplak artikel jurnal ilmiah Australia karya Carl Ungerer.
Kita tahu betapa kasus ini sangat memalukan dan memilukan, khususnya bagi dunia akademis. Pertanyaan penting adalah bagaimana ini dapat terjadi? Khusus tentang kasus plagiat oleh sejumlah guru di Riau, jangan-jangan ada sesuatu yang salah secara fundamental dalam program profesionalisasi bagi guru-guru kita. Sejak semula saya sudah ragu tentang program ini.
Ada ketentuan bahwa mereka yang berhasil memenuhi kriteria "guru profesional" akan dapat tunjangan jabatan. Seharusnya, tambahan penghasilan itu jadi stimulus. Ironisnya, ia hampir jadi satu-satunya alasan yang mendorong banyak guru mengejar sebutan "profesional". Profesionalisme dalam pengetahuan dan kemampuan kerja tidak penting! Yang penting duit! Sikap ini jelas merusak profesi guru.
Lalu, apa sebenarnya profesionalitas guru itu? Definisi kuno mengenai ini meliputi dua hal, pertama, penguasaan materi pembelajaran, dan kedua, kepiawaian dalam metode pembelajaran. Karena cepatnya perubahan yang terjadi di sekolah dan di dunia pendidikan pada umumnya, definisi harus diubah. Penguasaan materi pembelajaran berubah menjadi "kecintaan belajar" (love for learning) dan kepiawaian metodologi pembelajaran berubah menjadi "kegemaran berbagi pengetahuan" (love for sharing knowledge). Yang terakhir ini kemudian diperbarui lagi menjadi "kegemaran berbagi pengetahuan dan ketidaktahuan" (love for sharing knowledge and ignorance).
Mengapa terjadi perubahan- perubahan ini? Karena dunia pendidikan tidak statik. Pengetahuan berkembang terus. Metodologi pembelajaran juga berkembang terus. Kalau dulu pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai guru pada waktu ia tamat dari pendidikan guru dapat bertahun-tahun, sekarang kedua hal tadi akan menjadi ketinggalan zaman dalam waktu lima tahun.
Sekarang ini terasa betul kebenaran ucapan seorang profesor Inggris pada tahun 1954: "If you learn from a teacher who still reads, it is like drinking fresh water from a fountain. But if you learn from a teacher who no longer reads, it is like drinking polluted water from a stagnant pool". Belajar dari guru yang terus membaca, rasanya seperti minum air segar. Namun, belajar dari guru yang tak lagi membaca, seperti minum air comberan.
Dan sekarang ini, dalam abad ke-21, seorang guru baru dapat disebut "guru profesional" kalau dia memiliki learning capability, yaitu kemampuan mempelajari hal-hal yang harus dipelajarinya, hal-hal yang perlu dipelajarinya, dan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dapat dipelajarinya. Kemampuan-kemampuan tumbuh dari pengetahuan tentang dirinya sendiri, siapa dirinya sebenarnya, dan mengetahui pula pribadi-pribadi bagaimana yang tidak mungkin dicapainya. Ditirunya, ya, tetapi dicapainya (verpersoonlijkt), tidak! Singkatnya, guru profesional adalah orang yang tahu diri. Orang yang tahu diri tidak akan melakukan plagiat.
Saya mendapatkan kesan bahwa esensi profesionalitas guru ini tidak pernah dijelaskan kepada guru-guru yang ingin maju, guru-guru yang benar-benar ingin memahami tugasnya dan memperbaiki kinerjanya. Kesan saya lagi, yang ditekankan dalam usaha-usaha peningkatan kemampuan (upgrading) adalah pengetahuan tentang kementerengan guru profesional. Hal-hal yang berhubungan dengan kosmetik keguruan profesional. Guru-guru muda yang baru selesai ditatar jadi guru profesional tampak ganteng (handsome) atau cantik, tetapi tidak memancarkan kesan keprofesionalan yang mengandung wibawa.
Jadi bagaimana sekarang? Untuk tidak mengulangi kecelakaan yang terjadi di Riau ini, perlu ada tinjauan yang jujur terhadap program dan praktik penataran yang dilaksanakan selama ini. Susun kembali programnya sehingga meliputi hal-hal esensial yang saya sebutkan di atas.
Tentang plagiat
Plagiat berasal dari kata Belanda plagiaat yang artinya "meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain tanpa izin". Jadi, plagiat merupakan suatu bentuk perbuatan mencuri. Mengapa ini dilakukan, sedangkan guru selalu berkata kapada murid untuk tidak mencontek?
Melakukan plagiat adalah perbuatan mencontek dalam skala besar. Jadi, tindakan plagiat merupakan pelanggaran terhadap etika keguruan. Guru biasa pun akan mendapatkan aib kalau sampai melanggar etika ini. Jadi, mengapa terjadi pelanggaran yang bisa menurunkan harga diri guru seperti ini?
Dugaan saya, pertama-tama adalah karena para guru di Riau tadi ingin segera mendapatkan tunjangan finansial dan julukan "guru profesional" beserta yang menyertainya. Ini tidak mengherankan! Karena setelah bertahun-tahun hidup dalam keadaan serba kekurangan, dengan kedudukan sosial yang tidak terlalu mentereng, maka ketika datang kesempatan untuk perbaikan, mereka berebut meraih kedua perbaikan sosial tadi secara cepat. Lebih cepat, lebih baik!
Kedua, ketentuan bahwa untuk jadi "guru profesional" seorang guru biasa harus membuat karya ilmiah tidak benar-benar dipahami artinya. Membuat "karya ilmiah" itu apa? Yang diketahui kebanyakan guru adalah bahwa "karya ilmiah" adalah makalah yang disusun berdasarkan pemikiran atau penelitian sendiri. Sifat ilmiah harus terlihat dari judul, metodologi, dan istilah-istilah yang digunakan.
Di antara para guru yang mengejar sebutan profesional ini selama masa studi mereka banyak yang tidak mendapat kuliah atau latihan dalam membuat karya ilmiah. Mempelajari lagi kemampuan ini dari permulaan terasa sangat berat. Maka, dicarilah jalan pintas. Membayar orang untuk menyusun karya ilmiah ini, atau membajak karya ilmiah yang sudah jadi, dan di-copy tanpa izin. Dan terjadilah plagiat.
Bagaimanapun kasus plagiat ini harus segera ditangani secara serius dan jangan sampai terulang. Ingat, hal ini berpotensi terjadi lagi dan lagi kalau kita hanya menindak mereka yang tertangkap melakukan plagiat. Harus dilakukan langkah pencegahan. Bila kita gagal menghentikan praktik buruk plagiat oleh guru-guru ini, seluruh masa depan pendidikan kita akan menghadapi kehancuran.
Mochtar Buchori Pendidik

Senin, 03 Juni 2013

Mata batin



Spiritual Session
Cara Membuka Mata Batin / Indra ke 6 (enam)





Sebenarnya indera ke enam atau dalam bahasa gaulnya di sebut “The Sixth Sense”, adalah kemampuan seseorang untuk menangkap sinyal-sinyal ghaib ataupun hal-hal yang belum terjadi. Sinyal-sinyal ini dapat berupa apa saja, bisa berupa wangsit,bisikan ghaib,penglihatan, atau bahkan pertanda melalui mimpi.


Indera ke 6 sering di identikkan dengan kemampuan untuk melihat makhluk halus, padahal sebenarnya fungsi dari indra ke 6 sendiri jauh melebihi hanya sekedar melihat makhluk halus. Karena kemampuan melihat makhluk halus hanya merupakan bagian / percabangan dari kemampuan indra ke 6 itu sendiri. Seperti intuisi, namun jauh lebih tajam. Apabila intuisi merupakan suatu hasil pengalaman, indera ke 6 tidak mengenal adanya pengalaman.

Indera ke 6, sejatinya adalah kemampuan terpendam dari manusia. Karena pada hakekatnya kita dapat mendayagunakan kemampuan indra ke 6 ini bila saja kita semua mengetahui caranya.

Terlepas dari itu semua, indera ke 6 sangat bisa sekali untuk di kembangkan dan di miliki oleh siapapun. Karena kini telah begitu banyak metode yang di kembangkan agar seseorang dapat menguasai indra ke 6 itu sendiri. Indra ke 6 dapat muncul / bangkit bila seseorang senantiasa mampu mengolah pikiran,jiwa,raga,rasa dan juga karsanya. Hal ini dapat di tempuh dengan cara meditasi / bertapa / tafakur. Kesemua cara itu bisa di pelajari, yang di butuhkan hanyalah ketekunan dan kemauan dan tentu saja kesungguhan hati dalam menjalankannya dengan niat Lillahi ta’ala.

Dengan cara-cara tersebut, akan terjadi suatu “loncatan fungsi indera”, yaitu dari panca indera ke indera ke 6. Loncatan indera ini bisa kita ibaratkan seperti orang tidur, karena tak seorangpun yang dengan kesadaran penuh, bahwa dirinya telah tertidur. Batas kesadarannya sangat tipis sekali.

Perbedaan budaya antara Timur dan Barat membuat munculnya perbedaan persepsi tentang indra ke 6 ini. Budaya barat yang lebih mengedepankan hal-hal yang bersifat rasional berpendapat bahwa indera ke 6 ini lebih di kategorikan sebagai suatu kemampuan yang merupakan salah satu percabangan dari kekuatan pikiran bawah sadar manusia yang belum banyak di gali.


Sedangkan budaya timur, budaya yang tidak asing lagi dengan hal-hal yang bersifat Irasional atau ghaib, membuat indra ke 6 ini mendapatkan kedudukan “istimewa” pada diri seseorang. Merupakan suatu karomah yang luar biasa yang hanya di miliki oleh orang-orang tertentu.

Bagi sedulur-sedulur semua yang mungkin ingin mengaktifkan kemampuan indra ke 6 secara sempurna, berikut ini saya paparkan beberapa tips pengaktifan indra ke 6.

Cara membuka Mata Batin / Indra ke 6 (enam)
Manusia pada umumnya tidak dapat melihat alam Gaib / Alam metafisik.karena mata mereka tidak terlalu kuat,hal ini dapat di bantu dengan membuat mata batin orang tersebut yang letaknya kira kira 1 cm diatas pertemuan kedua alis.

Cara Membangkitkan Indra ke 6 :
anda dapat menvisualisasikan bentuk mata batin tersebut yang letaknya di atas pertemuan kedua alis.untuk orang yang tidak dapat melihat gaib,biasanya mata batinnya tertutup,mirif pintu lift yang terbuat dari baja hitam.buatlah gerakan seolaholah sedang membuka pintu tersebut,setelah anda anggap terbuka,anda visualisasikan sedang membuat pasak pada pintu tersebut sehingga pintu tersebut tidak menutup kembali,setelah pintu itu terbuka selanjutnya akan terdapat selaput tipis yang mirip selaput pada buah salak,visualisasikan anda sedang memotong selaput tersebut,lakukan berulan ulang minimal 5x.untuk orang yang mempunyai iman yang agak tipis,biasanya selaput tersebut cukup tebal. Setelah itu arahkan jari telunjuk dan jari tengah anda dan visualisasikan bahwa sari kedua jari tersebut keluar sinar putih.
Setelah itu lakukan hal yang sama untuk membuka mata batin yang berada di daerah dada anda,yang terletak di pertemuan / lekukan tulang rusuk anda.

Kamis, 31 Mei 2012

Sudah Bugarkah saya?



Ada banyak pertanyaan yang muncul ketika kita berbicara tentang kebugaran. Diantaranya; sudah bugarkah fisik saya? Latihan apa yang cocok agar kita tetap bugar? Bagaimanakah mengukur tingkat kebugaran kita?
Pertanyaan itu bisa saja mengganggu dikarenakan pemahaman kita tentang kebugaran sangat sedikit. Memang ada baiknya jika kita mengetahui tingkat kebugaran sebelum berkeinginan untuk melatih jasmani.
Dengan pemahaman atas tingkat kebugaran jasmani, kita dapat merancang program olahraga sesuai kebutuhan. Untuk mengetahuinya secara akurat, berkonsultasilah kepada para ahli, akademisi ilmu keolahragaan atau dokter olahraga.
Pada kehidupan manusia pasti akan dihadapkan dengan beberapa masalah yang ada, sangat kompleks sekali masalah demi masalah yang muncul. Dengan segenap kemampuan yang dimiliki manusia, manusia akan selalu berusaha untuk menyelesaikan semua masalah-masalah itu. Tetapi terkadang seseorang akan lupa terhadap apa yang terjadi pada dirinya sendiri, lebih-lebih pada masalah fisik, yaitu tentang kebugaran jasmani. Banyak dari mereka yang sibuk, akan lupa terhadap kesehatan dan kestabilan kebugaran jasmaninya.

              Kebugaran jasmani seseorang adalah kemampuan tubuh seseorang untuk melakukan tugas pekerjaan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti, untuk dapat mencapai kondisi kebugaran jasmani yang prima seseorang perlu melakukan latihan fisik yang melibatkan beberapa komponen kebugaran jasmani dengan metode latihan yang benar.

Semakin tinggi tingkat kebugaran jasmani seseorang, semakin besar kemampuan fisiknya dan produktifitas kerjanya, khususnya dalam bidang olahraga. Bagi guru pendidikan jasmani ataupun pelatih, sangat penting mengadakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kebugaran jasmani siswa atau atlet untuk mengembangkan prestasi. Selain itu para guru atau pelatih akan membutuhkan sesuatu yang dinamakan dengan evaluasi. Yang bertujuan untuk mengoreksi dan mengetahui seberapa tingkat dan perkembangan setelah melakukan beberapa tahap latihan. Sebagai pelatih dan guru penjas, yang bertanggung jawab atas prestasi anak asuhannya. Perlu melengkapi dirinya dengan pengetahuan tentang cara-cara mengukur dan menilai status kondisi fisik tersebut dan status kondisi fisik seseorang hanya mungkin diketahui dengan pengukuran dan penilaian yang berbentuk beberapa tes kemampuan.


Cara evaluasi yang tepat yang harus dilakukan yaitu dengan cara Tes dan Pengukuran terhadap atlet ataupun siswa. Tes dan pengukuran dapat dilakukan dengan beberapa cara dan tahap yang mempunyai manfaat dan tujan dilakukannya tes tersebut.  Tes tersebut dibagi menjadi beberapa komponen kondisi fisik serta beberapa jenis tes yang sudah dikelompokan.
Dengan melakukan tes dan pengukuran ini kita dapat mengambil beberapa manfaat, diantaranya kita dapat mengevaluasi tahap latihan yang telah dilakukan, dengan hal itu kita dapat mengetahui seberapa perkembangan kondisi fisik seseorang, selain kita bisa mengembangkan prestasi atlet, kita juga bisa menjadikan ini sebagai bahan perbaikan dalam pembelajaran atau pelatihan. Kita juga dapat termotivasi oleh hasil yang diambil dalam tes dan pengukuran ini, atau bahkan kita dapat menggunakan data ini untuk bahan sebuah penelitian.
Ada beberapa tes yang bisa lakukan sendiri. Berikut diantaranya :
Daya tahan kardiovaskuler
Umumnya dilakukan untuk melihat kapasitas maksimal paru-paru (VO2 max), yaitu seberapa besar paru-paru kita menghirup oksigen yang berguna dalam pembakaran penghasil energi dalam tubuh.
Sejumlah tes daya tahan kardiovaskuler umunnya memerlukan alat sederhana seperti :
1.       Stop Watch, atau jam tangan digital
2.       Lintasan datar. Ukurlah jarak lintasan, bisa dengan menggunakan kendaraan bermotor dan lihat jarak tempuh di pencatat jarak pada kendaraan
3.       Lakukan pemanasan terlebih dahulu.
1. Tes Rockport
1.       Tentukan lintasan dengan jarak 1,6 km.
2.       Tempuh dengan berjalan atau berlari dengan kecepatan konstan.
3.       Catat waktu tempuh.
4.       Lihat waktu tempuh dengan VO2 max di table 1.
5.       Cocokkan angka VO2 max dengan rentang usia dan jenis kelamin di table 2.

Tabel 1.
No
Waktu tempuh
VO2max
Ml/kg/menit
No
Waktu tempuh
VO2max
Ml/kg/menit
1
5.18 - 5.23
62
22
8.41 – 856
41
2
5.24 - 5.29
61
23
8.57 – 9.14
40
3
5.30 - 5.35
60
24
9.15 - 9.32
39
4
5.36 – 5.42
59
25
9.33 – 9.52
38
5
5.43 – 5.49
58
26
9.53 – 10.14
37
6
5.50 – 5.56
57
27
10.15 – 10.36
36
7
5.57 – 6.04
56
28
10.37 – 11.01
35
8
6.05 – 6.12
55
29
11.02 – 11.28
34
9
6.13 – 6.20
54
30
11.29 – 11.57
33
10
6.21 – 6.29
53
31
11.58 – 12.29
32
11
6.30 – 6.38
52
32
12.30 – 13.03
31
12
6.39 – 6.48
51
33
13.04 – 13.41
30
13
6.49 – 6.57
50
34
13.42 – 14.23
29
14
6.58 – 7.08
49
35
14.24 – 15.08
28
15
7.09 – 7.19
48
36
15.09 – 16.00
27
16
7.20 - 7.31
47
37
16.01 – 16.57
26
17
7.32 – 7.43
46
38
16.58 – 18.02
25
18
7.44 – 7.56
45
49
18.03 – 19.15
24
19
7.57 – 8.10
44
40
19.16 – 20.39
23
20
8.11 – 8.24
43
41
20.40 – 22.17
22
21
8.25 – 8. 40
42
42
22.18 – 24.11
21

Tabel 2 : Tingkat kebugaran sesuai jenis kelamin dan kelompok umur
Laki-laki
Usia
Kurang sekali
Kurang
Cukup
Baik
Baik
Sekali
19
≤ 37
38 – 41
42 – 51
52 – 59
60 – 80
20-29
≤ 37
38 – 41
42 – 44
45 – 48
≥ 49
30-39
≤ 35
36 – 39
40 – 42
43 – 47
≥ 48
40-49
≤ 33
34 – 37
38 – 40
41 – 44
≥ 45
50-59
≤ 30
31 – 34
35 – 37
38 – 41
≥ 42
≥ 60
≤ 26
27 – 30
31 – 34
35 – 38
≥ 39

wanita
Usia
Kurang sekali
Kurang
Cukup
Baik
Baik
Sekali
19
≤ 33
34 – 37
38 – 46
47 – 54
55 – 71
20-29
≤ 31
32 – 34
35 – 37
38 – 41
≥ 42
30-39
≤ 29
33 – 35
33 – 35
36 – 39
≥ 40
40-49
≤ 27
28 – 30
31 – 32
33 – 36
≥ 37
50-59
≤ 24
25 – 27
28 – 29
30 – 32
≥ 33
≥ 60
≤ 2623
24 – 25
26 – 27
28 – 31
≥ 32


2. Tes Jalan/Lari 2.4 km ( Cooper Test )
1. Tahapan tes sama dengan tes Rockport
2. Cocokkan waktu tempuh dengan table Cooper sesuai dengan jenis kelamin
Norma Penilaian Tes Cooper
Pada laki-laki
Kategori


Waktu tempuh
(menit detik)



13-19 tahun
20-29 tahun
30-39 tahun
40-49 tahun
50-59 tahun
60 tahun
Baik sekali
< 09.40
< 10.45
< 11.00
< 11.30
< 12.30
< 13.59
Baik
09.40 - 10.46
10.46 – 12.00
11.01 – 12.30
11.31 – 13.00
12.31 – 14.30
14.00 – 16.15
Cukup
10.41 – 12.10
12.01 – 14.00
12.31 – 14.45
13.01 – 15.35
14.31 – 17.00
16.16 – 19.00
Kurang
12.11 – 15.30
14.01 – 16.00
14.46 – 16.30
15.36 – 17.30
17.01 – 19.00
19.01 – 20.00
Kurang sekali
>15.31
>16.00
> 16.31
> 17.31
> 19.01
> 20.01










Pada perempuan
Kategori


Waktu tempuh
(menit detik)



13-19 tahun
20-29 tahun
30-39 tahun
40-49 tahun
50-59 tahun
60 tahun
Baik sekali
< 12.29
< 13.30
< 14.30
< 15.55
< 16.30
< 17.30
Baik
12.30 - 14.30
13.31 – 15.54
14.31 – 16.30
15.56 – 17.30
16.31 – 19.00
17.31 – 19.30
Cukup
14.31 – 16.54
15.55 – 18.00
16.31 – 19.00
17.31 – 19.30
19.01 – 20.00
19.31 – 20.00
Kurang
16.55 – 18.30
18.31 – 19.00
19.31 – 19.30
19.31 – 20.00
20.01 – 20.30
20.01 – 21.00
Kurang sekali
>18.31
>19.01
> 19.31
> 20.01
> 20.31
> 21.01










3.       Tes Lari/Jalan 12 menit
Tes kebugaran  jasmani lainnya yang dikembangkan oleh Cooper adalah tes lari selama 12 menit. Pada tes ini jarak yang ditempuh oleh peserta tes tidak ditentukan, yang ditentukan adalah waktu tempuh yaitu selama 12 menit selanjutnya jarak tempuh diukur setelah peserta tes berlari selama 12menit.
Pelaksanaan tes lari 12 menit dari Cooper ini memerlukan prosedur yang agak rumit, dimana peserta diharuskan berhenti ketika waktu 12 menit telah terlampaui, lalu mereka perlu memberikan tanda dimana tempat berhentinya, untuk segera diukur jarak hasil tempuhnya. Jika peserta tes banyak maka perlu kejelian untuk mengukurnya.
Jarak yang dicapai tersebut selanjutnya dikonfirmasikan pada table kategori kebugaran jasmani untuk menetapkan status kebugaran peserta tes. Kategori tes tersebut dibedakan berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur. Untuk mengetahui berapa besaran VO2MAX peserta tes dapat dihitung menggunakan sistem poin yang dikemukakan oleh Cooper. Penghitungan poin mengunakan data jarak yang ditempuh peserta tes selama 12 menit. Jarak tersebut harus diubah menjadi satuan mil dimana satu mil sama dengan 1609 mater. Kemudian dimasukan dalam rumus.
Rumus sederhana untuk mengetahui VO2Maxnya adalah : Jarak yang ditempuh dalam meter – 504.9) / 44.73.
Contoh : Budi melaksanakan Cooper Test dengan lari selama 12 menit, jarak yang dicapai (2600 meter – 504.9) dibagi 44.73 = 46.83881 mls/kg/min
Kategori Kebugaran Jasmani Tes Lari 12 Menit
Untuk Laki-laki Dan Perempuan Berdasarkan Kelompok Umur




kelompok Umur
Kategori Kebugaran
Jarak Yang Ditempuh (dalam M) Selama 12 Menit
Laki-Laki
Perempuan
30 Tahun <
Sangat Kurang
Kurang Dari 1.608
Kurang Dari 1.528
Kurang
1.609 s/d 2.011
1.529 s/d 1.850
Sedang
2.212 s/d 2.413
1.851 s/d 2.252
Baik
2.414 s/d 2.815
2.253 s/d 2.654
Baik Sekali
Lebih Dari 2.815
Lebih Dari 2.654
30 s/d 39 Tahun
Sangat Kurang
Kurang Dari 1.528
Kurang Dari 1.367
Kurang
1.529 s/d 1.850
1.368 s/d 1.689
Sedang
1.851 s/d 2.252
1.690 s/d 2.091
Baik
2.253 s/d 2.654
2.092 s/d 2.493
Baik Sekali
Lebih Dari 2.654
Lebih Dari 2.493
40 s/d 49 Tahun
Sangat Kurang
Kurang Dari 1.367
Kurang Dari 1.206
Kurang
1.368 s/d 1.689
1.207 s/d 1.528
Sedang
1.690' s/d 2.091
1.529 s/d 1.850
Baik
2.092 s/d 2.493
1.851 s/d 2.333
Baik Sekali
Lebih Dari 2.493
Lebih Dari 2.333
> 50 Tahun
Sangat Kurang
Kurang Dari 1.287
Kurang Dari 1.045
Kurang
1.288 s/d 1.608
1.046 s/d 1.367
Sedang
1.609 s/d 2.011
1.368 s/d 1.689
Baik
2.012 s/d 2.413
1.690 s/d 2.172
Baik Sekali
Lebih Dari 2.413
Lebih Dari 2.172






4.       Balke  Tes
Tes jalan-lari adalah salah satu tes untuk mengukur tingkat kebugaran jasmani atau juga VO2MAX seseorang. Tes ini tergolong mudah pelaksanaannya karena memerlukan peralatan yang sederhana. Antara lain :
  1. Lapangan atau lintasan lari yang jaraknya jelas atau tidak terlalu jauh, maksudnya adalah lintasan dapat dilihat dengan jelas oleh pengetes.
  2. Penanda jarak atau bendera kecil untuk menandai jarak lintasan
  3. Stopwatch atau alat pengukur waktu dalam satuan menit.
Protokol pelaksanaan tesnya adalah sebagai berikut ;
  1. Peserta tes berdiri digaris Start dan bersikap untuk berlari secepat-cepatnya selama 15 menit.
  2. Bersamaan dengan aba-aba “Ya….” Peserta tes mulai berlari dengan pencatat waktu mulai meng-ONkan stopwatch.
  3. Selama waktu 15 menit, pengetes member aba-aba berhenti, dimana bersamaan dengan itu stopwatch dimatikan dan peserta menancapkan bendera yang telah disiapkan sebagai penanda jarak yang telah ditempuhnya.
  4. Pengetes mengukur jarak yang ditempuh peserta tes yang telah ditempuh selama 15 menit, dengan meteran.
Untuk menghitung besarnya VO2MAX peserta tes, jarak yang ditempuh oleh pesrta tes dimasukan dalam rumus :
Ket : X = jarak yang ditempuh dalam satuan meter
Jika ingin mengetahui kategori tingkat kebugaran jasmani yang dimiliki cocokan dengan table kebugaran dalam kategori Balke berikut:
Laki-Laki
Norma
Perempuan
>   61.00
Baik sekali
>   54.30
60.90 s/d 55.10
Baik
54.20 s/d 49.30
55.00 s/d 49.20
Sedang
49.20 s/d 44.20
49.10 s/d 43.30
Kurang
44.10 s/d 39.20
<  43.20
Kurang Sekali
<  39.10

5.       Bleep Tes
Bleep Test adalah test lari bolak-balik (shuttle run test) yang cukup progresif.  Tes ini menunjukkan kemampuan maksimum seseorang dalam pengambilan oksigen yang memumgkinkan untuk dapat dicapai (VO2MAX).

Dalam pelaksanaannya, minimum memerlukan seorang tester/selektor dan seorang observer.
Yang perlu diperhatikan (disampaikan kepada peserta test):
·         Bleep Test memerlukan usaha paling maximal
·         Siapapun, setiap orang yang akan melakukan bleep test harus sudah melakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter
·         Jika peserta sedang dalam keadaan cidera, tidak dibolehkan untuk mengikuti test. Sangat penting! Sebelum melakukan test perlu melakukan pemanasan dengan lari ringan dan setelah itu stretching/peregangan

Persiapan
Perlengkapan / fasilitas yang diperlukan:
Alat dan Fasilitas:
a.  Lintasan datar yang tidak licin sepanjang minimal 22 meter
b.  Sebuah Cassette-player dengan volume suara cukup keras
c.  Cassette bleep test
d.  Stopwach
e.  Buat dua garis dengan jarak yang ditentukan oleh kecepatan kaset. Kecepatan standar adalah satu menit   
     (untuk jarak 20 meter).
f.  Meteran
g.  Alat tulis
Pelaksanaan:
a. Ikuti petunjuk dari kaset. Setelah 5 hitungan bleep, peserta tes mulai berlari/jogging, dari garis pertama ke garis 2.  
    Kecepatan berlari harus diatur konstan dan tepat tiba di garis, lalu berbalik arah (pivot) ke garis asal. Jika peserta   
    tes sudah sampai di garis sebelum terdengar bunyi bleep, peserta tes harus menunggu di belakang garis, dan baru
    berlari lagi saat bunyi bleep. Begitu seterusnya, peserta tes berlari bolak-balik sesuai dengan irama bleep.
b. Lari bolak-balik ini terdiri dari beberapa tingkatan (level). Setiap tingkatan terdiri dari beberapa balikan (shuttle).   
    Setiap level ditandai dengan 3 kali bleep (seperti tanda turalit), sedangkan setiap shuttle ditandai dengan satu kali
     bleep.
c. Peserta tes berlari sesuai irama bleep sampai ia tidak mampu mengikuti kecepatan irama tersebut (pada saat bleep
     terdengar, peserta tes belum sampai di garis). Jika dalam 2 kali berturut-turut peserta tes tidak berhasil mengejar
     irama bleep, maka peserta tes tersebut dianggap sudah tidak mampu mengikuti tes, dan ia harus berhenti.
d. Lakukan pendinginan dengan cara berjalan, jangan langsung berhenti/duduk.

Hasil dan Penilaian:
a. Catat pada level dan shuttle terakhir, berapa yang berhasil diselesaikan peserta tes sesuai irama bleep.
b. Tes bleep juga untuk mengukur prediksi nilai VO2 max.
Catatan:
Bila peserta test kurang dari 6 sebaiknya tidak perlu membagi sesi test. Cari lintasan yang mencukupi.
Bila peserta lebih dari 8 atau 10 sebaiknya membagi sesi test menjadi 2 sesi.
Tabel Penilaian VO2 max
Tabel di bawah ini menunjukkan kategori penilaian VO2 max untuk pria dan wanita dalam segala umur. Semuanya merupakan penilaian relative utk VO2 max yang diukur dalam mls untuk setiap oksigen per kilogram dari berat tubuh per menit.
PENILAIAN OKSIGEN MAKSIMAL YANG DIAMBIL  UNTUK PRIA (ml/kg/min)

18-25
tahun
26-35
tahun
36-45
tahun
46-55
tahun
56-65
tahun
65+
tahun
baik Sekali
>60
>56
>51
>45
>41
>37
baik
52-60
49-56
43-51
39-45
36-41
33-37
di atas rata-rata
47-51
43-48
39-42
35-38
32-35
29-32
rata-rata
42-46
40-42
35-38
32-35
30-31
26-28
dibawah rata-rata
37-41
35-39
31-34
29-31
26-29
22-25
buruk
30-36
30-34
26-30
25-28
22-25
20-21
sangat buruk
< 30
< 30
< 26
< 25
< 22
< 20
PENILAIAN OKSIGEN MAKSIMAL YANG DIAMBIL UNTUK WANITA (ml/kg/min)

18-25
tahun
26-35
tahun
36-45
tahun
46-55
tahun
56-65
tahun
65+
tahun
baik Sekali
56
52
45
40
37
32
baik
47-56
45-52
38-45
34-40
32-37
28-32
di atas rata-rata
42-46
39-44
34-37
31-33
28-31
25-27
rata-rata
38-41
35-38
31-33
28-30
25-27
22-24
dibawah rata-rata
33-37
31-34
27-30
25-27
22-24
19-22
buruk
28-32
26-30
22-26
20-24
18-21
17-18
sangat buruk
< 28
< 26
< 22
< 20
< 18
< 17

Harvard Step Test
Tes ini adalah pengukuran yang paling tua untuk mengetahui kemampuan aerobik yang dibuat oleh Brouha pada tahun 1943. Ada beberapa istilah seperti kemampuan jantung-paru, daya tahan jantung-paru, aerobic power, cardiovascular endurance, cardiorespiration endurance, dan kebugaran aerobik yang mempunyai arti yang kira-kira sama. Penelitian ini dilakukan di Universitas Harvard, USA, jadi nama tes ini dimulai dengan nama Harvard. Inti dari pelaksanaan tes ini adalah dengan cara naik turun bangku selama 5 (lima) menit.
Pelaksanaan:
1. Tinggi bangku 20 feet (50 cm)
2. Irama langkah pada waktu naik turun bangku (NTB) adalah 30 langkah per menit, jadi 1 (satu) langkah setiap 2   
    (dua) detik
3. 1 (satu) langkah terdiri dari 4 (empat) gerakan/hitungan:
  • Hitungan 1 : Salah satu kaki diangkat (boleh kanan atau kiri terlebih dahulu tetapi konsisten), kemudian menginjak bangku. (Asumsi kaki kanan)
  • Hitungan 2 : Kaki kiri diangkat lalu berdiri tegak di atas bangku
  • Hitungan 3 : Kaki yang pertama menginjak bangku pada hitungan 1 (asumsi kaki kanan) diturunkan kembali ke lantai
  • Hitungan 4 : Kaki kiri diturunkan kembali ke lantai untuk berdiri tegak seperti sikap semula
4. Ganti langkah diperbolehkan tetapi tidak lebih dari 3 (tiga) kali
5. Supaya irama langkah ajeg/stabil, maka digunakan alat metronome
6. NTB dilakukan selama 5 (lima) menit. Saat aba-aba stop, tubuh harus dalam keadaan tegak. Kemudian duduk
     dibangku tersebut dengan santai selama 1 (satu) menit
7.  Hitung denyut nadi (DN) orang coba (testi) selama 30 detik. Dicatat sebagai DN 1
8.  30 detik kemudian hitung kembali DN testi selama 30 detik. Dicatat sebagai DN 2
9.  30 detik kemudian hitung kembali DN testi selama 30 detik. Dicatat sebagai DN 3
10. Setelah mendapatkan DN 1, DN 2, DN 3, maka data tersebut dimasukan kedalam rumus Indeks kebugaran yang
      selanjutnya dikonversikan sesuai rumus yang dipilih
11. Apabila testi tidak kuat melakukan NTB selama 5 (lima) menit, maka waktu lama NTB tersebut dicatat, lalu
      DN-nya diukur/dihitung sesuai dengan petunjuk pengambilan DN tersebut
Indeks Kebugaran
Rumus Panjang:
Durasi NTB (detik) x 100/2 (DN 1+DN 2+DN 3)
Indeks Kebugaran Kategori Kebugaran
< 55 Jelek
55-64 Kurang dari rata-rata
65-79 Rata-rata
80-89 Baik
≥90 Baik sekali
Rumus Pendek: Durasi NTB (detik) x 100/(5,5 x DN 1) Indeks Kebugaran Kategori Kebugaran < 50 Jelek 50-80 Rata-rata >80 Baik

















Demikianlah sejumlah tes daya tahan kardiovaskuler. Begitu banyak manfaat yang bisa kita ambil dari melakukan tes dan pengukuran. diantaranya seperti :

• Untuk pelaksanaan evaluasi dan sebagai bahan motivasi
•              Sebagai bahan perbaikan mengajar / melatih dan sebagai dasar penelitian
•               Penentuan status atlet dan pembagian kelompok sesuai dengan ketentuan yang telah
ada
Pengukuran adalah hal penting yang harus dilakukan guru untuk mengidentifikasi kemampuan siswa, sehingga dapat melakukan evaluasi dan perbaikan performa fisiknya, dengan data hasil pengukuran guru memiliki acuan dalam menyusun progran pembelajaran dan menata kelompok siswa berdasarkan tingkat kebugaran dan kemampuan motoriknya,  selanjutnya hasil pengukuran tersebut juga dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan terhadap kualitas pembelajaran atau program-program ekstra kurikuler di sekolah.
Mudah-mudahan informasi ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang tes-tes kebugaran jasmani bagi para guru penjas, pelatih  dan insan-insan yang berkecimpung dalam dunia olahraga.

Referensi :
1.       Bompa, Tudor O. Theory and Methodology of Training, Dubuque Iowa: Kendal/Hunt
Publishing Company, 1983.
2.       Bompa, Tudor O. Periodization, Theory and Methodology of Training. Fourth Edition. York University: Kendal/Hunt Publishing Company, 1999.
3.       Brian J. Sharkey, Kebugaran dan Kesehatan, Divisi Buku Sport PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2003.
4.       Darden, E, 1981. The Athlete, s guide to sport Medicine. Chicago: Contemporary Books Inc.
5.       Edmund R. Burke, 2001. Panduan Latihan Kebugaran di Rumah. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
6.       Depkes. Republik Indonesia, (2005), Petunjuk Teknis Pengukuran Kebugaran Jasmani, Dir.Jen Bina Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan Jakarta
7.       Eckert, Haller M., (1974), Practical Measurement of Physical Performance, Lea and Febigar
8.       Mathew, Donal K., (1963), Measurement in Physical Education, Second Edition, WB.Sounders Company, Philadelphia, London
9.       Nurhasan, (2000), Tes dan Pengukuran Pendidikan Olahraga, FPOK-UPI